Karhutla Mengancam di Tengah Kemarau Ekstrem, Sherly Perpanjang Operasi Modifikasi Cuaca
Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menghantui Maluku Utara di tengah kemarau ekstrem. Puluhan titik api sempat terdeteksi, membuat Pemerintah Provinsi Maluku Utara bergerak cepat meminta dukungan pemerintah pusat.
Hasilnya mulai terlihat. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang digelar sejak 5 September 2026 berhasil memicu hujan di sejumlah wilayah dan membantu menekan titik-titik kebakaran.
Hujan turun di Halmahera Timur, Halmahera Tengah, Halmahera Barat, Halmahera Utara, Pulau Morotai hingga Kota Tidore Kepulauan. Sejumlah wilayah yang sebelumnya terdeteksi mengalami kebakaran pun mulai terbantu dengan turunnya hujan.
Melihat masih adanya potensi awan hujan, operasi penyemaian kemudian diperpanjang hingga 12 September 2026.
Gubernur Maluku Utara Sherly Laos mengatakan perpanjangan OMC dilakukan untuk memaksimalkan setiap peluang terbentuknya hujan, sekaligus menjangkau wilayah lain yang masih menghadapi ancaman karhutla dan kekeringan.
“Melihat potensi awan hujan yang masih tersedia, masa operasi penyemaian resmi diperpanjang hingga 12 September 2026,” kata Sherly saat memberikan keterangan pers di Apron Bandara Sultan Baabullah Ternate.
Ancaman karhutla mulai meningkat pada akhir Agustus 2026. Saat itu, sekitar 64 titik api terdeteksi dengan luas lahan terdampak mencapai 260 hektare.
Kondisi tersebut mendorong Pemprov Maluku Utara mengajukan permohonan bantuan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada pekan keempat Agustus.
Respons pemerintah pusat kemudian diwujudkan melalui pengerahan pesawat untuk mendukung pelaksanaan OMC.
Pesawat Cessna Caravan tiba di Maluku Utara pada awal September dan mulai menjalankan operasi pada 5 September 2026.
Hingga penerbangan keenam pada Kamis, 10 September 2026, sedikitnya enam ton garam atau natrium klorida (NaCl) telah disemai ke atmosfer wilayah Maluku Utara.
Upaya tersebut kemudian memicu hujan di sejumlah wilayah yang sebelumnya berada dalam kondisi kering dan rawan kebakaran.
Operasi lanjutan diarahkan ke sejumlah wilayah yang masih menghadapi ancaman kekeringan dan karhutla, di antaranya Kota Ternate, Kepulauan Sula, Pulau Taliabu dan Halmahera Selatan.
Sherly menilai hasil OMC menunjukkan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada BNPB, BMKG, TNI-Polri, pemerintah kabupaten/kota hingga tim penerbang yang terlibat dalam operasi tersebut.
“Saya mewakili Pemerintah Provinsi Maluku Utara, pemerintah kabupaten/kota, serta 1,4 juta warga Malut mengucapkan terima kasih atas intervensi OMC ini. Terima kasih atas sinergi yang sangat baik dari seluruh pihak—BNPB, BMKG, TNI-Polri, pemerintah daerah, hingga tim pilot,” ujarnya.
Meski hujan mulai mengguyur sejumlah wilayah, Sherly mengingatkan ancaman karhutla belum sepenuhnya berakhir.
Tanah dan vegetasi yang masih kering membuat potensi kebakaran tetap tinggi. Karena itu, pemerintah kabupaten dan kota diminta meningkatkan kewaspadaan serta memperkuat pengawasan di wilayah masing-masing.
Masyarakat juga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar.
“Saya meminta kepada seluruh warga masyarakat yang ingin membuka lahan, jangan sekali-kali menggunakan cara membakar,” tegas Sherly.
Menurutnya, kondisi lahan yang sangat kering membuat api mudah menyebar. Percikan kecil sekalipun dapat berkembang menjadi kebakaran besar apabila tidak segera ditangani.
Karena itu, intervensi pemerintah melalui OMC harus dibarengi dengan upaya pencegahan di tingkat masyarakat.
Kepala Stasiun BMKG Sultan Baabullah Ternate, Desindra Deddy Kurniawan, menjelaskan kondisi kemarau yang terjadi di Maluku Utara saat ini tergolong ekstrem.
September secara historis merupakan periode puncak musim kemarau di wilayah Maluku Utara. Kondisi tersebut semakin diperkuat oleh fenomena El Nino.
“Secara teoritis, potensi hujan alami pada September hampir tidak ada,” jelas Desindra.
Meski demikian, masih terdapat tutupan awan yang berpotensi dimanfaatkan melalui teknologi modifikasi cuaca.
Awan tersebut kemudian menjadi sasaran penyemaian dalam pelaksanaan OMC. Hasilnya, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang turun di sejumlah wilayah Maluku Utara.
“Ini menjadi berkah besar di tengah kemarau ekstrem,” ujarnya.
BMKG memperkirakan musim penghujan secara alami baru mulai memasuki Maluku Utara pada akhir Oktober atau awal November.
Artinya, ancaman kekeringan dan karhutla masih harus diantisipasi dalam beberapa pekan ke depan.
Perpanjangan OMC hingga 12 September menjadi salah satu langkah pemerintah untuk memanfaatkan setiap peluang hujan sekaligus menekan risiko kebakaran dan dampak kekeringan.
Pemprov Maluku Utara bersama BNPB, BMKG, TNI-Polri, pemerintah kabupaten/kota dan seluruh pemangku kepentingan masih melanjutkan upaya penanganan di lapangan.
Gerak cepat tersebut menjadi ikhtiar bersama untuk menjaga Maluku Utara dari ancaman karhutla sekaligus melindungi sekitar 1,4 juta warga di tengah kemarau ekstrem.
Join channel telegram infosofifi.id agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now












