Moana dari Pedalaman: Cerita Sherly Tjoanda dan Tangis Sunyi Suku Togutil
Langkah kaki Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, hari itu menembus sunyi hutan pedalaman Halmahera.
Namun ia mengaku, kedatangannya bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai manusia yang ingin belajar tentang kehidupan dari masyarakat Suku Togutil atau Suku Tobelo Dalam.
“Hari itu, saya tidak datang sebagai pejabat. Saya datang sebagai manusia yang ingin belajar,” ungkap Sherly.
Pertemuan itu menjadi pengalaman yang begitu membekas. Di tengah suasana yang sederhana, masyarakat yang selama ini dikenal sebagai “orang dalam” menyambutnya dengan tatapan tulus tanpa banyak kata.
Salah satu momen paling menyentuh terjadi ketika Sherly melihat seorang ibu menggendong bayinya. Tatapan bayi itu disebutnya begitu dalam, seolah bertanya siapa dirinya dan apa tujuan kedatangannya.
“Di situ saya sadar, tak kenal maka tak sayang itu nyata. Kita sering bicara tentang mereka, tapi jarang benar-benar hadir di tengah mereka,” katanya.
Tak disangka, masyarakat setempat kemudian memberikan sebuah kehormatan yang sangat berarti: meminta Sherly memberi nama kepada bayi perempuan tersebut.
Sherly sempat terdiam. Baginya, nama bukan sekadar panggilan, melainkan doa dan harapan untuk masa depan sang anak.
Ia pun memilih nama “Moana”.
Nama itu terinspirasi dari sosok gadis kecil pemberani dalam film animasi terkenal yang berani menjelajah, mengikuti suara hatinya, dan tidak takut menghadapi luasnya dunia.
“Moana, gadis pemberani dengan jiwa petualang,” ujar Sherly.
Lewat nama itu, ia berharap sang bayi kelak tumbuh tanpa kehilangan akar budayanya, namun tetap memiliki keberanian menghadapi masa depan.
Dari pertemuan tersebut, Sherly menegaskan bahwa pemerintah tidak datang untuk mengubah masyarakat adat menjadi “orang kota”, melainkan hadir tanpa menghilangkan kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun.
Pemerintah Provinsi Maluku Utara, kata dia, tengah menyiapkan lahan sekitar lima hektare untuk membantu masyarakat hidup lebih aman dan sehat, tanpa harus kehilangan identitas mereka.
Lahan itu dirancang agar masyarakat dapat mulai berkebun, beternak, serta memberi akses gizi dan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak mereka.
“Ini bukan soal memodernisasi. Ini soal memanusiakan tanpa menghilangkan jati diri,” tegasnya.
Bagi Sherly, pembangunan sejati bukanlah tentang seberapa cepat perubahan terjadi, melainkan seberapa dalam manusia mau memahami sesamanya.
Dan dari pedalaman hutan itu, ia mengaku belajar kembali tentang arti kemanusiaan.
“Kadang, untuk benar-benar membantu, kita harus lebih dulu mau duduk, diam dan mendengar.” kisah Sherly.
Join channel telegram infosofifi.id agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now









